Rosh Kecil, Nagosari, dan Global Warming
Rosh Kecil, Nagosari, dan Global Warming
Oleh: Gama (Manager Care Force, CEMARA PKBI SUMBAR)
Teluk Bayur, sebuah latar indah
saat kaki kanak-kanak kita menginjak pasir, amis campur asin
hmmm… aroma selalu sedap bagiku, sahabat
di waktu sedih atau sukacita, laut tidak pernah berseru ”Pergi!”
kau senyum dan berbisik, ”Di sana harapanmu!”
Lima belas tahun yang lalu, gudang batu bara itu tidak lain sebuah jalan besar selebar enam meter. Di kirinya tergolek Samudra Hindia, dan di kanannya berderet rumah penduduk semi permanen. Rata-rata jendela rumah sengaja dibuat lebar menghadap ke teras samudera. Baru ketika nenar-benar akan tidur, oleh penghuninya jendela itu ditutup.
Ada lebih dari lima puluh rumah dibangun memunggungi bukit dimana di kakinya tersudut rel kereta api yang dulu masih digunakan untuk membawa batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur. Jalan dari pasar Gaung ke arah Pelabuhan itu dikenal dengan nama Jalan Ambon. Salah satu rumah besar di sana, adalah rumah kakek buyut saya, seorang pria Pariaman yang menikah dengan perempuan Aceh yang lari dari Sigli semasa perang kemerdekaan. (lagi…)
6 comments Mei 9, 2008
CANTIK, HAK SIAPA AJA HAYO?
CANTIK, HAK SIAPA AJA HAYO?
Gama, Manager CARE FORCE, CEMARA PKBI SUMBAR
Ngomong-ngomong soal cantik, ada ngga sih cewek di dunia ini yang ngga senang dibilang cantik? Mmmm… kayaknya ngga ada deh. Kalau ada, kashian dech! Faktanya, ngga peduli gimanapun bentuk, rupa, dan warna kulitnya, semua cewek ingin dipuji bahwa mereka cantik. Untuk itu, cewek-cewek biasanya sengaja buat ngabisin waktu lebih lama mematut diri di depan kaca, sembari bertanya, “Dah cantik belum ya?” Wah, naga-naganya keinginan untuk cantik sudah jadi kodrat cewek kale??? Setuju?
Tapi o oww… ada masalah! Saat konsep kecantikan tidak dapat menampung kenyataan bahwa cewek-cewek –dan cowok juga- tercipta dengan kekayaan aneka bentuk, ukuran dan warna kulit, maka banyak cewek yang terserang virus MERASA TIDAK CANTIK. Pasalnya, konsep tunggal bahwa cantik itu harus tinggi, harus langsing, harus putih, harus berhidung mancung, bulu mata harus lentik, dan rambut harus lurus panjang adalah adalah oleh konsep yang dibuat oleh koran, majalah, film, dan iklan TV yang sebenarnya amat KEJAM. Konsep ini tidak bisa menempatkan cewek pada posisi menjadi diri sendiri, dan bangga pada apa yang mereka miliki, apa adanya. Akhirnya, banyak cewek-cewek yang berlomba mandi pemutih, ke salon buat meluruskan rambut dan memasang bulu mata palsu. Dan diet mati-matian serta menarik dan meregang tubuh mereka biar bisa lebih tinggi. Wah…. kasian ngga? Banget! Itulah jadinya kalau sudah termakan iklan. GAWAT!!!!
“Tapi itukan wajar, karena cewek gitu lho! pengennya cantik!”
Soal pengen cantik sih wajar. Tapi kalau nafsu itu sampai membuat cewek jadi merasa super duper ugly alias jelek karena ngga punya bodi gitar spanyolnya Cindy Crawford, dan kemudian jadi ‘menyiksa diri’ fisik maupun mental, itulah yang ngga wajar.
Cantik itu bukan soal ukuran! Panjang pendek, kurus atau buncit adalah rahmat yang harus diterima. Cantik itu perkara PD. Percaya Diri guys!!! Meski ada orang yang tinggi semampai bak pohon pinang, tapi kalau dia ngga pede and jalannya jadi malu-malu malah nyaris bongkok… huh, capek deh? Ayo PeDe! Kalau sudah PD, maka kita bisa hidup dengan lebih nyaman karena kita bisa menerima dan mensyukuri diri kita apa adanya. Nggak usah menyiksa diri dengan pogram ini itu jika ujung-ujungnya penolakan pada apa yang kita miliki. Terima dan bersyukur…. Setiap cewek itu unik dan konsep kecantikan harusnya ngga picik dengan hanya mempertuan agungkan satu tipe aja. Cetakan pabrik kale?
Cantik itu adalah SEHAT. Mesti gals! Meski tinggi, rendah, kurus, atau gemuk, yang penting harus SEHAT. Karena dengan KESEHATAN kita bisa beraktivitas maksimal karena merasa nyaman dengan kondisi tubuh yang prima. Untuk SEHAT, kita kudu punya pengetahuan akan pola dan gaya hidup yang baik. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah salah satu ciri SEHAT.
Selanjutnya soal sikap nih! Cantik itu identik dengan SENYUM. Meski dandan kayak artis, kalau wajahnya selalu cemberut mengkerut, cantiknya di mana coba? Maka tersenyumlah dengan tulus. Senyum merupakan bentuk penghargaan yang paling mudah dan bebas ongkos. Hargai siapa saja, jika kita juga ingin dihargai oleh orang lain. Senyum kita akan membuat yang ngeliat jadi ikutan senang dan membalas senyum itu. Sehingga hari-hari pun bisa dijalanin dengan hati senang. Hore!!!
PD sudah, SEHAT sudah, dan SENYUM juga sudah…. Maka yang terakhir, TERAMPIL. Saatnya kita mulai pintar memilih potongan baju, dan gaya rambut yang sesuai dengan bentuk wajah, dan tubuh, yeah sesuai dengan kebutuhan kita. Jangan jadi korban MODE!!! Jangan asal tabrak-tabrak warna, ntar jadi kayak ondel-ondel! Untuk itu coba deh tanya ke temen atau saudara yang cukup ngerti soal mix and match ini. Intinya, bukan mengubah diri atau fisik kita, tapi menyesuaikan apa yang sudah kita miliki dengan apa yang harusnya bisa membuat kita lebih nyaman.
Yup! Kalau sudah begitu, pas deh cantiknya! Semua cewek bisa belajar buat jadi cantik kan, makanya, semakin hari pasti bisa semakin cantik. Ngga fisik aja, tapi juga sikap and kecerdasan. Nah, semua cewek di dunia berhak jadi cantik kan!!! So, jangan pernah berat hati menunjukkan pujian yang tulus ke adik, kakak, teman, atau pacar, ”You are beautiful!”
Add comment Mei 9, 2008
INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN
INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN
Oleh Gama
“… Taluuuuuuuauuua…..” seruan itu terdengar sayup, antara terdengar dan tidak. Seolah datang dari tempat yang amat jauh, seruan itu membuat telinga anak-anak yang kebetulan menangkapnya menjadi berhenti sejenak dari senda gurau. Mereka berlari ke jendela memandang ke arah jalan, dengan awas memeriksa siapa yang lewat di dalam temaramnya malam.
Jam 10 malam sudah. Bukankah tadi Mak Uncu mengingatkan kami untuk tidur tidak lewat pukul sembilan? Hmmm… Tapi anak-anak seusia saya waktu itu tentu punya dunia kecil yang tidak mudah tidur seperti para dewasa yang kelelahan.
“….. Asiiiiiiiiiin….”
“Ha?” mulut kecil saya menganga, bengong dan mengerling ke arah jendela yang tadi sempat kami tinggalkan.
“Itu penjual telur asin!” jelas sepupu, kawan bagaluik tadi. “Eh shhttt…” ia menyuruh saya diam sembari menunggu. Ia menunggu saat si penjual telur asin mengadzan kan kata ‘talua’ dan menggantinya dengan, “Cik iduaaaaaaaang….” teriak sepupu saya.”
Tidak berapa lama, “…. Asiiiiiiiin….” balas suara dari tempat jauh itu.”
“Ha ha ha ha….”
Kami baru tidur hampir tengah malam. Pasalnya, Mak Uncu yang kebetulan mengetahui ‘garah’ tadi mengajak kami keluar, menunggu si penjual telur asin. Tak berapa lama, yang ditunggu datang juga. Seorang pria berumur lima puluhan, dengan baju kemeja abu-abu yang lusuh, celana katun dan sandal japang. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Selain telur asin, ia juga membawa ketiding rotan yang lebar yang didalamnya ada kacang rebus dan sebuah tekong dari bekas kaleng susu. Dalam sebuah keranjang bulat dari bahan sejenis kawat telur-telur asin ia susun. Bau badan bapak penjual telur asin itu aduh ampun, samparono masam! Saat menyerahkan piring kami yang sudah diisi beberapa telur asin, tanpa sadar di garuknya hidung, entah sudah berapa banyak debu dan kotoran yang terkeruk oleh telunjuknya. Hiii…. (lagi…)
Add comment Mei 9, 2008
IKAN EMAS DAN TINJA GEMUK
IKAN EMAS DAN TINJA GEMUK
Oleh: Gama
“Saf…. Saf…. Safriiiiii….” Bisik Eko dengan suara tertahan.
”Ah, apaan?” tanya Safri yang kesal campur cemas.
”Bauk nggak? Ampuunnnn….. masa ngga ngerasa?” keluh Eko.
Safri pura-pura tidak dengar. Keluhan Eko semakin menjadi dan akhirnya menular ke anak-anak lain. Akhirnya Bu Lili mengendus kekisruhan kecil itu.
”Lho bagian sana kok ribut? Ada apa?” Tanya bu Lili
“Hiii… ada yang bawa ikan asin Buk! Paik baunnyo Buk! ” spontan Eko mengadu.
Sementara anak-anak yang lainnya menyadari bau tersebut dan mulai menutup hidung, Safri pun tidak mau ketinggalan menutup hidungnya, meski agak telat.
”Ikan asin?” Bu Lili berusaha melacak ketidak beresan di kelasnya. Hingga berbekal pengalaman beliau, ”Ini bau sepatu!” Simpul Bu Lili.
Duar!!! Jantung Safri nyaris meletup.
”Ayo ngaku siapa yang sepatunya bauk?” desak Bu Lili.
Tidak ada yang mengaku, namun spontan semua mata tertuju ke Eko.
”Sumber baunya di Eko!” Vonis Uci.
“Jangan asal tuduh! Harum kok!” Eko agak mengangkat kaki bermaksud mencium sepatunya. Namun belum sempat ia melakukan attraksi itu, ”Bloakk…..” ia tiba-tiba mual. Tajam, wajah masamnya tertuju ke Safri. ”Safri yang pakai sepatu ikan asin Buk! Safri Buk! Safri!!!” Kelas mendadak ribut, tapi bukan Bu Lili namanya jika tidak dapat mengendalikan keadaan.
Semuanya menjadi jelas setelah Safri menceritakan apa yang dialaminya saat pulang sekolah kemarin. Sesampai di gang depan rumah, ia ingin sekali mengambil sebuah mahluk rahasia yang asyik berenang-renang sejak tadi pagi di banda depan rumah saat ia berangkat sekolah. Setelah pemeriksaan sesaat, syukurlah ikan emas itu masih ada. Cukup besar, sebesar dua telapak tangan Safri. Cukuplah untuk nanti, sambal makan malam bersama keluarganya. Safri tahu pasti bahwa ibunya terkenal pandai memasak ikan bakar.
”Itu ikan mas siapa?” sela Bu Lili.
”Tidak tahu juga Buk! Mungkin ada tetangga di kompleks sebelah yang kolamnya bocor waktu hujan, sehingga ikan itu keluar. Tapi kalau sudah masuk ke banda di depan rumah kan sudah boleh diambil untuk kita.” bela Safri.
”Terus.” Bu Lili ingin dengar cerita selanjutnya.
”Terus saya tangkap ikannya!”
”Dapat?”
”Tidak Buk, malah saya yang terpeleset ke dalam banda. Tanggung basah, saya sergap ikan itu ke bawah jembatan kecil. Namun tiba-tiba yang keluar justru dua biji tinja gemuk. Maka saya langsung loncat ke tepi banda.” keluh Safri.
”Oke! Saf, tapi kamu kan bisa pinjam sepatu abangmu kan? Cecar Bu Lili
”Ngga juga sih Bu. Bang Diego pulang ngga lama setelah saya basah-basah. Waktu masuk ke pekarangan, tanpa sengaja, ia melihat ikan mas itu. Dan ia malah sampai ngikutin ikan mas ke ke ujung banda. Pas mau ditangkap, ia kontan terpeleset. Lalu…”
”Ia ketemu tinja gemuk lagi?” tebak Bu Lili.
”Persis. Kok Ibu tahu?” gantian Safri yang penasaran.
”Nebak aja. Soalnya insiden sepatu bau ikan asin ini juga terjadi di kelas sebelah. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan kalian bersaudara,” sindir Bu Lili yang dalam hati ingin sekali tertawa besar-besar.
”Saya minta maaf deh Bu!” bujuk Safri.
”Ini yang terakhir ya. Jangan mau dibodohi ikan lagi! Gara-gara kamu, konsentrasi teman-teman yang lain jadi buyar.”
Sejak hari itu, tak pelak lagi, dua bersaudara Safri dan Diego di daulat dengan ejekan ’ikan asin’ oleh teman mereka. Dalam hati, mereka menyesal. Namun ada juga syukurnya juga. Syukur teman-teman tidak tahu perkara ikan emas dan tinja gemuk itu. Sekurangnya, ’ikan asin’ lebih bergengsi dibanding ’tinja gemuk’.
Suatu siang, saat pulang sekolah, dua bersaudara ini kembali dikejutkan oleh kedatangan dua ekor ikan emas yang montok-montok. ”Itu di sana, kejar!” teriak Safri girang. Ada perasaan puas sekaligus dendam memenuhi dadanya.
Sepasang ikan emas itu sepertinya tahu bahwa mereka dalam incaran dua pemangsa bersaudara ini. Maka merekapun berenang terburu-buru ke bawah jembatan kecil ujung banda. Sesampainya di atas jembatan. Dua bersaudara ini menunggu si montok berwana emas.
”Lihat!” Pekik Safri.
Dua potong tinja gemuk ternyata baru saja nongol, membuat kecut kedua bersaudara ini. Di dalam hati mereka cuma bisa mengutuk ikan-ikan nakal yang mengerjai merekan. ”Biar ikan-ikan itu dikutuk jadi tinja betulan!” Diego kesal.
”Atau jangan-jangan selama ini, yang kita kejar itu benar-benar tinja?! Jangan-jangan itu tinja jadi-jadian!” tebak Diego yang disambut tatapan cemas dan setengah yakin adiknya.
”Hiiii…..! Pulang yuk!” ajak Safri dengan takut sekaligus kecewa. (For Oki, I still remember the story! Hit it!”
Add comment Mei 9, 2008
Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!
Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!
Akhirnya berkat kemurahan hati seorang teman saya mendapatkan buku best seller THE SECRET (RAHASIA) yang disusun oleh Rhonda Byrne dalam format e-book. Sebenarnya, waktu di Medan 2007 lalu, saya sempat beli DVDnya. Namun kaset tersebut kemudian dipinjam teman dan hingga sekarang masih belum dipulangkan. Maka saya lega sekali dapat membaca versi bukunya, meski dalam format PDF yang kemudian saya eksport ke WORD.
RAHASIA adalah buku yang membuka pikiran kita tentang kekuaran pikiran. Apa yang kita pikirkan berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan, kejadian dalam hidup kita. Kesuksesan pada dasarnya sudah ada di sekitar kita, dan jika ingin dekat dengannya –denan prinsip hukum ’tarik menarik’ semesta ini, ia bisa ditata dengan menata pikiran kita. Pemograman secara sadar ini akan mengarahkan semesta untuk memberikan apa yang kita inginkan.
Buku ini mengajarkan saya banyak hal, yang butuh lebih banyak waktu untuk mulai memprakterkkannya satu persatu. Salah satunya adalah mulai dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki sekarang, lalu membiasakan diri berkonsentrasi pada apa yang kita inginkan, menyetel mood atau suasana hati dan membuat jalan pikiran menuju hasil, dan selanjutnya membuat vision board. Untuk yang terakhir, mala ini saya akan mulai menyusun vision board saya, 2008 2009, hingga 2011, dan 2100.
RAHASIA adalah sebuah kekuatan niat dan pikiran untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kemampuan berfikir positif dan fokus pada hasil (bukan pada masalah) adalah pembelajaran yang bisa dipraktekkan oleh siapa saja. Dengan mengenal bagaimana sebuah ’takdir’ kehidupan secara mekanis tercipta, dan bagaimana cara kerja pikiran manusia, sadarlah kita bagaimana proses ’pikir’ para ilmuan, seniman dan orang-orang besar lainnya yang menjadi pemuncak dizamannya. Karena mereka mengerti dan sadar akan bagaimana memanfaatkan RAHASIA.
Maka jika barangkali kita selama ini kurang punya imajinasi karena sudah sedemikian frustasi, maka belajarlah menggunakan RAHASIA. Capailah harapan, dan rasakan bahwa semuanya sudah diciptakan untuk kita. Mau? Saat RAHASIA sudah menjadi kemampuan pribadi, maka keberhasilan itu bisa lebih cepat dari “Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!”
5 comments April 23, 2008
FORGIVE ME PALL, for Arpen

FORGIVE ME PALL, for Arpen
Saya selalu menyimpan hasil postingan blog terakhir setiap selesai browsing. Buat apa? Biasanya untuk melihat kembali berapa banyak visitor yang sudah melongok blog aq ini, dan kemudian untuk menyemangati diri agar terus menulis. Tahun ini harus jebol di Kompas!!!
Tanggapan Arpen beberapa hari lalu soal tulisan saya “Angek-angek cik ayam” terus terang membuat saya kesal, dan kontan saya tanggapi dengan sangat defensif, mempertahankan diri.
Dua hari ini, saya baca berkali-kali tanggapan itu, hingga kemudian saya sadar bahwa saya seharusnya tidak memberti menanggapi tanggapan seorang teman seperti Arpen dengan sedemikian keras. Soal pekerjaan dan soal pertemanan adalah soal yang penting yang buat orang denga ukuran ’kedewasaan’ seperti saya kadang rasanya mudah-mudah susah. Saya sadar sendiri masih belajar bagaimana menggandeng keduanya dengan baik, meski terkadang terjadi error dan ketegangan seperti sekarang.
Saya akui, jawaban saya saat itu memang egois sekali dan pantas kemudian Arpen merasa tersinggung maka saya bisa mengerti.
Mungkin saya memang teman yang tidak baik. Untuk kasus ini, saya bisa terima vonis tersebut. Karenanya, dari hati yang paling dalam saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya, pada Arpen. Saya harap setelah ini kita masih bisa berteman, dan semakin mengerti satu sama lain.
Saya memang ingin jadi relawan yang hebat, tapi bagaimana mungkin bisa jika berteman saja saya masih terseok-seok seperti ini. Anyway, biarlah saya terus belajar.
Well…. soal angek-angek cik ayam itu, jujur, memang waktu itu hati saya juga angek, tapi syukur sekarang sudah dingin, semoga Arpen juga begitu. I’ll send you private message after this.
3 comments April 23, 2008
Sandal! Sandal! Hujan! Hujan!

Sandal! Sandal! Hujan! Hujan!
Beberapa hari belakangan, kota Padang dilanda hujan. Kadang pagi hari sekitar pukul enam hingga delapan, kadang sore hingga malam, dan sesekali tengah malam. Hmm… kebetulan karena saya tinggal di Jalan Andalas, salah satu jalur yang cukup sibuk, hingga setiap pagi d dan sore dihari kerja mengalami kemacetan. Hujan terlihat jelas membuat banyak pemakai jalan kesal. Mudah sekali melihat kekesalan itu, simak saja bagaimana sopir angkot dan bus kota saling sikut, dan hujat mendorong pengemudi yang lain untuk ambil inisiatif. Mahasiswa tetangga sayapun juga tidak terlepas dari kekesalan karena hujan. Walau sebagian besar punya motor, tapi tetap saja, mesti super hati-hati kalau mengendara, mana macet, jalanan becex, badan capex, oto ndak lo saketex, banyaklo anak-anak ketex, wak susah mangamex…
Mengingat hujan yang sepertinya tidak akan berhenti hingga dua bulan ke depan, kemarin saya ke pasar membeli sepasang sandal. Kalau setiap hari keluar rumah pakai sepatu, susah juga, karena sepatu menyerap air dan keringnya butuh sehari. Saya punya dua pasang sport shoes, yang biasanya selalu dipakai bergantian untuk kerja.
Saat membeli sandal di departmem store, saya tidak banyak pikir. Beberapa bulan lalu saya sudah ke sana dan mengamati sandal itu. Meski demikian, keinginan untuk windows shopping menuntut saya untuk tidak langsung beli, tapi hang out dulu, coba ini coba itu. Yeah, sekurangnya bisa omong-omong dengan Eti –yang namanya mirip dengan nama Mama saya- si penjaga outlet.
Singkatnya, setiba di rumah, saya kembali mencobakan sendal itu. Ah, ukurannya, saya khawatir jangan-jangan tadi si Eti salah kasih, atau kaki saya membesar secara ajaib, kalau yang lain, saya tentunya tidak akan komplain. Ah, apa coba?
Dulu waktu duduk di bangku kelas dua, saya pernah dibawa Pa, ke toko sepatu. Saya tidak tahu persis apa waktu itu memang musimnya sandal karet keras yang mirip bahan karet ban atau tidak, yang jelas saya cuma ingin beli sandal yang modelnya begitu. Kami –saya dan Pa- menjelajahi toko demi toko. Pa jelas bukan orang yang cukup sabar, tapi bukankah tidak ada salahnya jika kali itu ia bersikap baik untuk melayani acara ke pasar yang nyaris tidak pernah kami lakukan.
Pertama kami ke koperasi karyawan Ombilin, Sawahlntuo, tempat Opa saya kerja. Biasanya kebutuhan harian diambil di sini, termasuk seragam sekolah kami, buku-buku hingga pembalut buat ’etek’ saya.
”Ada sendal karet yang hitam, model sendal jepit ngga?” saya akhirnya bertanya pada Tek Ros penjaga koperasi setelah tidak melihat ada tidak ada tanda-tanda keberadaan sendal yang saya cari.
Namun yang ditanya cuma menggeleng.
1 comment April 23, 2008
Your melting faces, girl!
Your melting faces, girl!
Show me the utmost premise
Why this love is a matter….
Why?
The red festive color garnished your lips
A short piggy pinky skirt printed your ass
And the patched bra there,
Definitely sexy?!
Perhaps you are worth loving
OMG! Am I too late to be aware?
All the gratitude, you set me up, you lead me in, you suck me great….
The horrible city garden after seven, where this love relies on
Is the safest stadium shelter
Till I get a surprise
About you, the third
“Are you a permanent visitor?”
“Should we issue a member card?!”
Oh Padang padang padang…..
Till the next morning, I find your initial
On the local daily
7 were caught, 7 jumped to Sawahan bridge
Hurray!!! beer party for city security
Add comment April 23, 2008
SEORANG Inspiring WTS
SEORANG Inspiring WTS
WTS, Writer, Trainer and Speaker, adalah julukan yang dipilih sendiri oleh Andrias Harefa. Sebagai seorang penulis, buku-bukunya menduduki rak-rak toko buku di deretan buku best seller. Buku yang sekarang saya baca adalah karya ke 26 dari bapak 3 anak ini yang asli Nias ini. Judulnya ‘Membangun Spirit Keberhasilan, dengan memulung kekayaan dari sekolah kehidupan’ yang merupakan kumpulan essay singkat tentang saripati hidup yang ia ‘pulung’ dari pengalaman teman, orang-orang besar, dan kehidupan sehari-hari.
Beberapa bab di buku ini saya baca secara marathon, yeah… terasanya seperti ‘ngemil’. Ngemil pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan yang baru tapi lama. Baru karena kesadaran saya disentuh cara yang baru, yang lebih ’menghargai’ dan elegan. Lama karena pembelajaran seperti kedisiplinan, idealisme, berfikir positif adalah zikir lama yang terkadang cuma merapung tanpa larut sebagai ’sikap’ dalam diri saya.
Saya pernah dengar ada orang yang berujar, ”Ngga usahlah baca buku ini atau itu segala. Baca dan pahami saja Alquran, karena ia lengkap dan apa sih yang tidak ada di dalamnya?!”
Membaca dan mendalami kitab suci adalah sesuatu yang masuk akal, berguna, dan tentunya berpahala. Namun sekarang, saya mengerti kenapa buku-buku baru, selalu membuka mata orang lebih lebar, padahal sudah ada buku-buku klasik yang justru punya muatan kurang lebih sama. Barangkali, sentuhannya lah yang berbeda.
Dalam Agama, bukankah kita tidak bisa terlalu memaksakan sebuah kesadaran pada orang lain. Tidakkah ’hidayah’ datang pada saat dan dari jendela yang tidak terduga. Maka jika mungkin kita belum mendapatkannya, tetaplah pastikan setiap pagi ’pintu atau jendela itu’ selalu siap terbuka.
Terakhir, saya ingin kutip salah satu halaman soal kedisiplinan, hidayah, yang mudah-mudahan diberikan secara permanen pada kesadaran saya:
”dengan disiplin, kita mengubah realita menjadi cita-cita. Dengan disiplin kita mentranformasi inspirasi menjadi prestasi. Dengan disiplin, kita bisa menata hidup agar dapat bergerak ke arah yang lebih berguna bagi lingkungan di sekitar kita. Dengan disiplin kita sesungguhnya menciptakan masa depan kita sendiri. (Hal.62)
”… disiplin adalah lem perekat dunia impian dan dunia nyata. Disiplin adalah jembatan penghubung , sehingga tanpa disiplin dunia impian tak akan tersambung dngan dunia nyata.” (Hal:68)
Coba kulik situsnya Andrias Harefa di www.pembelajar.com
1 comment April 23, 2008
Koran Lokal, dan kebiaasaan mengutip yang…. Aduh!
Koran Lokal, dan kebiaasaan mengutip yang…. Aduh!
Setiap minggu biasanya saya senang sekali membeli korang edisi Minggu. Saya paling suka opini, cerpen, humaniora, interview tokoh dan puisi. Selain membeli koran nasional, saya juga membeli koran lokal, salah satunya untuk mengecek tulisan sendiri.
Belakangan saya paling kecewa melihat opini atau cerita yang diambil dari internet dan dikopi oleh koran lokal. Artinya tidak ada penulis yang mengirim tulisan di bagian itu, dan pihak koran sendiri tidak punya wartawan yang kebetulan menulis untuk itu, sehingga diputuskan agar mengcopy opini atau cerita dari internet. (lagi…)
1 comment April 23, 2008







