SAWAHLUNTO, SEMAKIN CANTIK, fasilitasi yang asyikkk….
Mei 14, 2008
SAWAHLUNTO, SEMAKIN CANTIK, fasilitasi yang asyikkk….
Pagi ini, tepatnya pukul 6 saya dan salah seorang teman sesame relawan, Neli, menuju Kota Sawahlunto. Sopir kami dari BKKBN yaitu Pak Win sepertinya banyak diam sepanjang perjalanan. Ternyata bapak setengah baya ini tidak tahan menahan lapar, maka setelah menahan selama dua jam, kami sampai di muaro kalaban, dan memuaskan selera dengan soto rang awak di sana, yang letaknya sekitar 200 m dari lokasi waterboom.
Butuh 20 menit hingga kemudian baru benar-benar sampai ke Sawahlunto. Pembaca…. izinkan saya sedikit bernostalgia dengan kota ini…. saya kutip dari beberapa baris di ’morning reflection’ gak apa apa kan?
Cinta tidak menyisakan kesakitan apa-apa bagiku
Cuma piuhan rindu
Dan kepedulian ala ibu-ibu
Yang yaaaa… pun, setiap kita punya
Kota-kota impian itu berputar naik turun di kepalaku seperti ’boyan kaliang’ saat kita kanak-kanak, sayang
Saat ayahmu suatu sore mengetuk rumah kami dan menanyakan, ”Gama, ada? Kita akan melihat pasar malam, dan main lempar gelang-gelang.”
Tidakkah semuanya sempurna?
Kita berlarian ke lapangan dimana dulu pada masa Belanda orang-orang Jawa yang membangkang dirantai dan ditahan di dalam lorong-lorong di bawah tanah yang kita pijak di lapanan Ombilin, hingga kemudian Republik ini merdeka dan rantai-rantai itu lepas, mereka telah seperti lahir dari dalam bungkahan tanah kota ini. Kita menikmati kuda kepang, gamelan jawa dan… ragam ukiran etnik serta kuliner legit seperti getuk, sawut, dan tiwul, yang murah namun rasanya dahsyat membuat kita selalu berseri.
Setelah satu tahun lebih tidak pulang, Sawahlunto hari ini terlihat lebih indah. Sepanjang jalan dari simpang Muaro Kalaban sampai ke pondok kapur terlihat taman-taman kecil yang asri. Tanahnya sengaja di buat berbukit-bukit kecil, lalu di tutup rumput tipis dengan bunga berdaun kecil dan yang kembang kuningnya mekar merata. Rumput hias dipadukan puring-puringan dan sejenis lantana yang berwarna kuning marak memberi kesan seperti pembatas pada tepi tepi taman. Simpel, cantik, and membuat mata selalu segar dan tidak puas mengagumi keindannya. Bukit-bukit dengan batu alam pada dinding jalan dibiarkan secara alamiah menyapir pinggir jalam. Berbagai jenis tanaman hutan, yang tumbuh secara terlihat amat natural, berasa sebuah safari menembuh lekuk-lekuk bukit.
Damar dan durian adalah pepohonan yang banyak tumbuh pada jurang-jurang kecil di sebelah kiri jalan. Mereka tentu tidak dimaksudkan untuk berbagi periuk nasi dengan sistem tumpang sari. Raminya jenis ini mengisyaratkan Sawahlunto yang terkenal dengan durian kualitas paten, apalagi kalau bukan durian kubang, dan damarnya yang menjadi salah satu kekayaan holtikultura yang memakmurkan negri selain hasil kerajinan, produk makanan dan kerak-kerak batubaranya.
Jam sembilan kami sampai di balai kota yang terletak di daerah Lubang Panjang. Traaa…..Di lobi ada yang senyam senyum… ternyata guru BK saya dulu. Ngga berubah, si Ibu tetap muda dan cantik. Dan beberapa pegawai balai kota lainnya, yang saya kenal bersoloroh, ”Tambah gagah seh mah!” Ehem ehem…. Di Sawahlunto, orang-orang yang Anda temui di pasar akan bertanya, ”anak sia awak?” seolah-olah mereka punya daftar semua maka kepala RT di kota ini, yah, ini cuma kota kecil dimana hampir semua orang saling kenal, dan orang-orang baru terlihat amat mencolok dimata para ’senior’ residents.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, kami akhirnya bisa naik ke ruang rapat di lantai dua yang sebelumnya dipakai pihak balaikota. Kedatangan saya dan Nelly di request oleh pihak BKKBN, kami dikenalkan sebagai dua orang tamu dari PKBI dan kemudian setelah aca protokoler yang makan dua puluh menit, tibalah giliran saya.
Ada nervous memang, tapi saat mendengar suara sendiri dari pengeras suara, saya tiba-tiba tersetrum Percaya Diri. Saya suka suara ini, dan inilah yang membuat saya selalu bersyukur…. suara yang dulu buat beberapa teman curhat selalu dianggap ’memotivasi’ dan mampu membuat mereka ’semangat!’
Saya memperkenalkan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, dan Cemara serta kegiatannya, lalu gilitan Nelly yang fasilitasi soal Kesehatan Reproduksi, hingga mikrofonnya ke saya lagi untuk fasilitasi terakhir soal NAPZA dan HIV. Apa yang saya dapat selama memfasilitasi:
- Fasilitalah, maka mereka akan mendengarkan dan ikut bersama Anda. Ceramahilah maka mereka akan mengantuk
- Permainan sederhana akan amat membantu dalam dua jam fasilitasi, untuk menyegarkan suasana, dan membangun keakraban dengan peserta.
- Saya jujur saat mengatakan agak gugup, karena bagi saya ini ’pulang kampung’ yang serba dadakan. Hasilnya, kejujuran ini membantu, dan saya kurang satu menit, saya bisa menguasai situasi.
- Libatkan semuanya. Masalah sosialisi PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) di Sawahlunto adalah tanggung jawab mereka yang di Sawahlunto, maka yang penting adalah bagaimana tanggung jawab tersebut dikerjakan dalam kerangka lokal. Memanfaatkan potensi lokal, dan jeli melihat potensi bahaya di tingkat kota mereka. Sebagai contoh, saat membahas NAPZA, saya tidak menanyakan ’Ayo siapa yang tahu apa itu NAPZA?’ ini pertanyaan menggurui dalam hemat saya, dan membuat audience yang sudah jenuh menjadi ”capek deh…”
Saya memilih bertanya, ”Kira-kira di Sawahlunto ini ada NAPZA nggak sih?”
Kemudian tinggal mengorek satu persatu informasi jenis dan siapa pemakai, ada pelajar juga ngga, dan terakhir menyimpulkan, ”Nah, ini dia tantangan kita di Sawahlunto! Teman-teman siap ngga?” Inilah fasilitasi!
- Meninggalkan kartu nama, alamat atau nomor kontak. Mungkin kecil tapi amat dahsyat gunanya.
Perut sudah keroncongan buanget saat selesai fasilitasi, dan kemudian kami pulang, membawa nasi bungkus dan honor.
Sesampai di rumah jam 4 sore, saya langsung buru-buru mandi, ada kelas di rumah bersama Miss Perfecto.
”Ayo cepetan!!!!!”
My city, Sawahlunto, semua Bapak ibu, dan teman-teman, terimakasih buat pengalaman hari ini!
Entry Filed under: Uncategorized. .
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
imoe | Mei 18, 2008 at 3:30 pm
hehehe emang kegiatan sawahlunto jadi obrolan oleh orang BKKBN gam…gw ngegosip samo org BKKBN tu….nyo senang loe-loe pade hebat bana dalam fasilitasi hahahaha
2.
parmatohitam | Mei 19, 2008 at 7:36 am
wah senangnya bisa melihat kota tercinta. Kangen sekali ingin berjumpa teman dan saudara2 di sana. Salam kenal..
3.
gama | Mei 19, 2008 at 10:41 am
thanks bang im! gue seneng banget bisa ke sawahlunto waktu itu!!! awalnya malu gua mancogok di sinan, tapi kini gua merasa senang dan bangga, dan mikir, apa yang gua bisa bantu untuk sawahlunto. I love this town!!!
4.
parmatohitam | Mei 21, 2008 at 8:45 am
Bang Gama. izin untuk tukeran link ya..
Blog ini akan aku bikin link nya di http://parmatohitam.multiply.com
Terimakasih atas kunjungan balasannya.
5.
Catra | Mei 23, 2008 at 7:49 am
hehe, kalau catra ngomong pake mic atau pengeras suara. ketika mendengar suara kita sendiri catra jadi gugup.
hehe
6.
rhezha cool | Mei 27, 2008 at 4:41 pm
waduh kepengen ke sawahlunto karna dah lihat isi blig nya ini jangan lupa berkunjung ya ke blog saya