DZIKIR IKHLAS
Mei 14, 2008
DZIKIR IKHLAS
“Kenapa kamu? Ikhlas kan?” Tanya Ma.
”Ikhlas!”
”Ya udah senyum!”
Saya sering sekali tidak berminat untuk kalah. Tidak untuk sesuatu yang sudah saya usahakan. Sifat ini kemudian menjadikan saya sering dibelenggu prasangka seperti, janga-jangan saya salah lagi, atau siapa tahu dia sakit hati, atau saya dianggap kurang sopan, atau ah…. gawat kalau dia jadi gelap mata menilai cuma dari kesan personal. Untuk itu Ma, selalu mengingatkan, ”Ikhlas aja!”
”Kalau ngga bisa?”
”Kamu sebut aja ikhlas, ikhlas, ikhlas, ikhlas…. ntar pasti jadinya ikhlas sendiri.”
”Emang dzikir?”
”Coba aja!”
Maka jadilah saya melakukan ’dzikir ikhlas’.
Suatu hari cinta saya ditolak, dan saya pulang dengan mendung yang hampir runtuh. Ia, perempuan yang melahirkan saya dari rahimnya, cuma berbisik sebelum saya masuk pintu kamar, ”Ikhlas!”
Saya menangis setelah membekap kepala dengan bantal, tapi jauh di sana di bawah sadar saya, saya menyanyikan kata itu. ” ikhlas, ikhlas, ikhlas, ikhlas….” hingga mungkin Cuma butuh 30 menit –ini ambang yang paling singkat untuk orang seperti saya bisa lupa- saya jatuh tertidur, pulas, sampai esok hari pergi sekolah.
Saat sarapan, ia tersenyum, ”Seger banget?”
Saya Cuma tersenyum, ikhlas.
Semakin lama hidup dan bergaul, saya sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan keinginan secara ekstrem pada ’semsesta’ dan ikhlas menjadi sebuah perisai untuk semua kekecewaan, tidak itu saja, termasuk juga ikhlas untuk penyambutan sebuah keberhasilan yang ’hebat’. Ikhlas membuat saya sering mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang membantu, ketimbang bermenit-menit di depan cermin cuma untuk membanggakan diri sendiri. Ikhlas membuat saya tidak perlu sakit hati dan percaya, pekerjaan apapun, bahkan mandi atau gosok gigi, pastinya akan lebih berguna dan berkah jika dikerjakan dengan iklas.
Jika sulit, mulai saja tersenyum, meski Cuma senyum masam, tapi lama-lama ia akan legit dan dalam sepersekian detik, sebuah kelapangan akan menyerbu dada.
”Thanks Mom!”
Entry Filed under: Uncategorized. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
ria | Mei 15, 2008 at 11:08 am
iklas adalah hal yang mudah diucapkan, tapi begitu sulit dilakukan namuuunn… tidak mustahil kalo kita mau..
2.
gama | Mei 16, 2008 at 7:18 am
betul ria, saya juga sering berkelahi dulu dengan diri sendiri untuk sampai pada keyakinan, “nah gitu dong, ikhlas…” tapi ya, bagi saya emang begtu prosesnya, makanya kalau ada orang yang terlihat kurang ikhlas, saya berusaha untuk paham bahwa yang bersangkutan cuma manusia biasa. mungkin juga sedang belajar untuk bisa ikhlas…
3.
faisol | Agustus 29, 2008 at 7:20 am
terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Berdzikir Membuat Hati Tetram, Benarkah?”
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah.html
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/