Baca, Tulis, dan Usiklah Hatimu….
Mei 14, 2008
Baca, Tulis, dan Usiklah Hatimu….
(Just a sharing, For Nik)
Kenapa baru dijawab sekarang?
Sibuk tahu!
Hmmmm… basi banget!
Whatever…..
Pagi ini, saya bela-belain untuk bangun subuh buat nulis setelah ’formulating’ –perumusan- nyaris dua minggu. Bagi saya, pertanyaan pagi ini simpel saja, ”Kenapa kita harus membaca dan menulis, padahal itukan ngebosanin. Kadang malah buat capek.”
Nggak, kalau udah hobi! Malah justru bete banget kalau pas ada ide trus ngga ditulis, ada ide ngga juga sempat ditulis, ada ide lagi, eh ngga sempat lagi ditulis…. akhirnya lupa…. jadi serasa ’meracuni’ diri sendiri. Buat seorang penulis best seller seperti saya ini namanya ’block’ kematian perlahan yang muaranya adalah ’pesimisme’, ”Penulis Best seller a lo tu?” Gejala ini yang membuat saya berbulan-bulan ’hamil’ tanpa kelahiran apa-apa. ”Huh! Calon Ayah busuk!” Terjebak dalam asyik masyuk menggugurkan ide lantaran tidak sempat ditulis.
Idealnya, kalau sudah hobi, menulis menjadi sebuah kebutuhan untuk membuat ’monumen’, barometer intelektual, kematangan berfikir, sampai dengan pengukuran tingkat kemahiran dalam hal romantisme dan gombalitas.
Membaca bagi saya adalah kemewahan untuk menikmati pengalaman baru. Bukankah kita ini cuma ’upil’ kecil yang tidak apa-apanya di samudera dunia. Meski kecil, ni upil senang banget berandai-andai, pengen ini itu yang semuanya mesti dilayani dunia. Meskipun kaya dengan keterbatasan, tapi saya upil yang bersyukur punya space XL untuk berimajinasi. Sebagian besar latarnya saya adopsi dari pengalaman orang lain yang saya baca.
Betenya, kalau udah nulis, trus nanya ke diri sendiri, ”Mau nulis apa lagi nih?”
”Kamu mikirnya apa?”
”Ngga ada! Kosong!”
”Baca dong!!!”
Iqro! Baca baik itu diartikan secara literer ataupun membaca kehidupan sendiri. Membaca seperti memilih menu makanan. Tidak jarang, motivasinya cuma ’gengsi’. ”Orang hebat mesti baca ini Gam!” celetuk hati si orang hebat.
Secara tidak langsung, dua aktivitas di atas menjadikan saya siap tempur jika harus ngomong ini itu. Sebagai seorang English motivator, deretan topik kelas yang saya tangani terentang mulai dari seputar ’coli’ – istilah kami di SuperCHAT! ’choke my brother’ atau ’cakiak adiak’ – hingga persoalan Pendapatan Asli Daerah dan keamanan nasional. Dengan membaca, lalu menulis, saya terbiasa untuk ngomong dengan lebih terstruktur, dan secara lebih jelas membuat peta pikiran.
Ketiganya, menulis, membaca, dan kemudian berbicara adalah sebuah aksi terpadu yang telah memberikan sebuah ’style’ yang menurut siswa-siswa atau pembaca setia saya ’Gama banget!’ Sewaktu ikut kuliah dengan Kevin –I miss you, pal! Hiks hiks hiks…., saya telah menulis belasan cerpen berbahasa Inggris yang ia namai ’Gama alike’ yeah…. sebelas duabelas kan dengan ’Gama banget!’
Ini pun kemudian menciptakan tantangan-tantangan baru dalam proses transformasi kreatif saya ke sebuah ’mahakarya’. Saat ini, tantangan saya adalah bagaimana menulis dengan kata-kata yang lebih singkat, namun tetap jelas, dengan efeknya yang dahsyat. Persis filosofi puisi, ’simplicity!’ Dan itu butuh latihan terus. Terus menulis, terus membaca, diskusi, dan terus ….. JUJUR.
Saya setuju dengan pendapat bahwa ’pencipta’ dalam bentuk paling steril seperti apapun melakukan ’dikotomi’ antara ia dan karyanya, karya tersebut pastilah bagian dari satu sisi di dirinya. Sebagai mahluk Tuhan, saya percaya semua kita entah atheis atau mengaku beragama, tetap punya bakat menjadi orang baik karena kita mengandung sifat Tuhan. ”Tanya hatimu!” ujaran ini lebih catchy ketimbang. ”Tanya Tuhan!”
Saya akui, saya langsung atau tidak, fiksi atau bukan, beneran atau beneran boongnya, saya adalah apa yang saya tulis. So, silahkan berspekulasi. Sayapun sudah menganggap menulis sebagai bagian dari penundaan menjadi ’psycho yang serius’ sekaligus terapi kejujuran.
Maka menulislah banyak-banyak tentang diri sendiri, atau apa saja yan menarik…. jika kering, bacalah, usiklah terus entah itu hati atau pikiran, hingga terakhir…. ’antak an kuek-kuek’ pada kesadaran lain di luar diri kita, pada para pembaca, pendengar, atau teman ’maota’.
Entry Filed under: Uncategorized. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed