INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN

Mei 9, 2008

Our Easter eggs

INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN

Oleh Gama

“… Taluuuuuuuauuua…..” seruan itu terdengar sayup, antara terdengar dan tidak. Seolah datang dari tempat yang amat jauh, seruan itu membuat telinga anak-anak yang kebetulan menangkapnya menjadi berhenti sejenak dari senda gurau. Mereka berlari ke jendela memandang ke arah jalan, dengan awas memeriksa siapa yang lewat di dalam temaramnya malam.

Jam 10 malam sudah. Bukankah tadi Mak Uncu mengingatkan kami untuk tidur tidak lewat pukul sembilan? Hmmm… Tapi anak-anak seusia saya waktu itu tentu punya dunia kecil yang tidak mudah tidur seperti para dewasa yang kelelahan.

“….. Asiiiiiiiiiin….”

“Ha?” mulut kecil saya menganga, bengong dan mengerling ke arah jendela yang tadi sempat kami tinggalkan.

“Itu penjual telur asin!” jelas sepupu, kawan bagaluik tadi. “Eh shhttt…” ia menyuruh saya diam sembari menunggu. Ia menunggu saat si penjual telur asin mengadzan kan kata ‘talua’ dan menggantinya dengan, “Cik iduaaaaaaaang….” teriak sepupu saya.”

Tidak berapa lama, “…. Asiiiiiiiin….” balas suara dari tempat jauh itu.”

“Ha ha ha ha….”

Kami baru tidur hampir tengah malam. Pasalnya, Mak Uncu yang kebetulan mengetahui ‘garah’ tadi mengajak kami keluar, menunggu si penjual telur asin. Tak berapa lama, yang ditunggu datang juga. Seorang pria berumur lima puluhan, dengan baju kemeja abu-abu yang lusuh, celana katun dan sandal japang. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Selain telur asin, ia juga membawa ketiding rotan yang lebar yang didalamnya ada kacang rebus dan sebuah tekong dari bekas kaleng susu. Dalam sebuah keranjang bulat dari bahan sejenis kawat telur-telur asin ia susun. Bau badan bapak penjual telur asin itu aduh ampun, samparono masam! Saat menyerahkan piring kami yang sudah diisi beberapa telur asin, tanpa sadar di garuknya hidung, entah sudah berapa banyak debu dan kotoran yang terkeruk oleh telunjuknya. Hiii….

Itulah gambaran yang saya ingat tentang profil penjual telur asin di masa kecil dulu. Dan beberapa hari yang lalu, saat berkunjung ke rumah enek tuo, gambaran tentang penjual telur asin tidak berubah. Di zaman dengan perubahan cepat seperti ini, penjual telur asin masih tetap eksis dengan ketiding rotan, keranjang kawat, baju lusuh, celana katun – bertambal malah, dan sandal japang. Sedikit beda, karena penjual telur asin tidak lagi berteriak keras dan panjang saat ini karena jalanan sudah amat ribut dengan pekik riuh sepeda motor, dan kendaraan roda empat. Karena itu juga barangkali sepupu saya yang kecil-kecil sekarang tidak lagi punya rahasia mengolok-olok penjual telur asin.

Fenomena penjual telur asin adalah gambaran mereka yang tidak bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan zaman. Gambaran ini, beberapa tahun kedepan akan menjadi konsep kuno dengan label tradisional dan menjadi situs yang layak dimusiumkan. Fenomena ini menyiratkan mentoknya kreativitas dan ketidak mampuan melihat perkembangan.

Inovasi! Itu yang tidak mereka miliki. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi merupakan pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, pembaharuan. Selain itu, inovasi juga diartikan sebagai penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal (baik berupa gagasan, metode atau, alat). Padahal inovasi adalah kekuatan para pemenang.

Pemenang, dalam bidang apa saja, pasti sadar bahwa inovasi merupakan selling point (nilai jual) paling tinggi yang harus mereka tawarkan. Pemenang dalam bisnis penjualan goreng pisang berinovasi menggoreng dengan tepung panir dan rempah-rempah, memberikan saus pedas, stroberi, bluberi, dan coklat sehingga tradisi makan pisang goreng menjadi lebih spesial. Setiap tahun baru, para pembuat program komputer di Korea Selatan berinovasi dengan mengkonversikan rumusan tradisi ramal tradisional mereka ke dalam sebuah website yang dapat meramal peruntungan siapa saja secara online.

Berinovasi adalah sebuah langkah mentorpedo cara-cara lama dengan mempertaruhkan kenyamanan. Bukankankah kita cenderung untuk mencari nyaman dengan mengekor dan membakukan cara-cara lama? Inovasi pada awalnya memang tidak memberikan kenyamanan itu. Kita akan ditantang untung kalah, untuk malu, untuk diperolokkan, dianggap sok rancak, sok aksi, terobsesi atau bahkan tidak realistis. Namun, coba pikir, dulu di zaman tidak ada pesawat terbang, bukankah usaha untuk bisa terbang dinilai banyak orang sebagai mimpi bodoh? Bayangkan jika para pionir dulu itu, jadi suruik umang-umang karena tidak ada yang mendukung atau memperturutkan anggapan umum, bisa-bisa kita masih tetap hidup dengan gaya dan cara-cara tempo doeloe.

Inovasi bisa jadi sebuah usaha suci dalam sudut pandang agama. Perpindahan cara merupakan ‘hijrah’ yang tidak kalah sakral dalam menggiring umat ke dunia yang lebih efesien dan efektif. Mereka para ilmuan yang berjuang mencari bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, atau para pekerja sosial yang berinovasi, peras otak, memikirkan cara-cara baru dalam kampanye perlindungan lingkungan bisa disebut pejuang, promotor ‘hijrah’ yang berinovasi di zaman ini.

Melihat inovasi sebenarnya tidak susah. Perubahan adalah indikator yang paling mudah. Jika tidak ada yang berubah, semuanya serba biasa-biasa saja, basi!, berarti sel-sel inovasi lumpuh. Keinginan untuk berubah, menjadi berbeda, menjadi spesial hingga akhirnya merasa spesial adalah urutan menuju sebuah inovasi. Inovasi merupakan ciri-ciri kemanusiaan yang seharusnya kita dukung dan kembangkan. Inovasi perorangan menegaskan bahwa kita semua berbeda sekaligus unik. Sayang, keunikan ini cenderung terkubur dalam-dalam saat kita dipaksa untuk merasa, mendapat, bertindak, merespon dan dinilai secara sama dengan orang lain. Keunikan kita mati suri –bisa jadi sampai kematian yang sesungguhnya- karena kita tidak bisa menerima perbedaan di diri kita ataupun orang lain. Keunikan tidak lagi kaya saat semua orang mengindentikkan cowok keren itu dengan cowok playboy, cowok yang sukses ‘nembak’ cewek atau saat semua kita merasa lebih cantik karena setelah tiga bulan berhasil lebih putih dari si Ijum atau Marlina.

Inovasi adalah hak sekaligus manifestasi kita sebagai manusia, sebagai remaja. Inovasi membuat kita eksis, membuat kita menjadi seseorang yang dipertimbangkan dan dianggap spesial. Saya punya teman yang selalu berinovasi dengan jilbabnya. Dia merancang jilbab-jilbab unik yang mulai dari yang terkesan funky, kasual, resmi, hingga jilbab yang katanya paling mahal karena dipayet dengan sangat teliti. Sumpah, saya tidak pernah membayangkan ia akan jadi lebih cantik tanpa jilbab.

Tedi, teman yang lain dikenal suka membuat prototype atau model miniatur pesawat. Sekali ia membuat miniatur pesawat dengan dicat airbrush dengan warna belang harimau, macan tutul dan zebra, ternyata banyak yang pesan. Inovasi membuat mereka survive!

Saya pernah membaca buku tentang sistem pewarnaan kelas di Amerika dimana setiap mata pelajaran memiliki sebuah kelas khusus dengan warna cat berbeda. Ternyata, beberapa warna berefek positif dalam memacu kinerja bagian otak tertentu. Kesimpulan ini kemudian mendorong sistem baru dalam mengkhususkan satu warna cat ruangan yang berbeda untuk suatu mata pelajaran. Sekali saya pernah berpikir, kapan ya kelas di sekolah-sekolah kita tidak lagi berwarna putih mirip rumah sakit. Dan kenapa juga warna rumah sakit harus putih, kenapa saat belajar kita tidak pakai musik klasik dan aroma terapi yang juga dapat membantu merangsang kerja otak? Kenapa kita tidak keluar kelas, belajar ke tempat kumuh hingga terus ke rumah orang paling kaya di kota ini untuk mengerti soal kemiskinan, kekayaan, kerja keras, sifat malas, korupsi dan banyak lagi?

Jika saja saya menjadi penjual telur asin di awal tadi, saya akan warnai telur-telur itu dan memberi rasa khusus mulai dari rendang sampai spagetti. Lalu ada telur bervitamin C, telur rendah lemak, telur protein tinggi, telur paska menstruasi, hingga telur penambah ‘keperkasaan’. Saya akan jual di sebuah cafe modern dengan konter bergaya etnik, setiap telur diberi kode khusus dan akan keluar dari dispenser khusus lengkap dengan saus samba lado tanak, samba lado tarasi, samba lado ijau, dan dadak randang. Di kafe telur asin saya, orang bisa makan telur asin dengan diiringi musik tradisional secara live –bisa belajar main musik juga, browsing internet, spa dan mendapat layanan ‘uruik kampuang’. Setiap minggu akan ada ‘telur keberuntungan’ yang diundi oleh komputer secara acak dari nomor seri telur yang keluar di dispenser. Telur asin saya juga menerima pemesanan secara online untuk pengiriman local, nasional dan internasional dalam bentuk paket biasa, paket pernikahan dan paket ulang tahun. Beberapa telur asin akan dicetak bergambar, berisi informasi informasi kandungan gizi. Well, apa ini masih kurang realistis? Apa ini masih kurang masuk akal? Apa ini naif? Jawabanmu adalah derajat kesehatan sel-sel inovasimu! (Penulis bisa dihubungi di email dan fs: heisgama@yahoo.com)

Entry Filed under: Uncategorized. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Tag

Kategori

Komentar Terakhir

Catra di Money is everywhere…
faisol di DZIKIR IKHLAS
suhadinet di MiRACLe…
Frighten di Bukan seorang guru kursus! But…
ika di Izinkan aku aborsi….

Top Clicks

Blog Stats

Top Posts