Archive for Mei 9th, 2008
Rosh Kecil, Nagosari, dan Global Warming
Rosh Kecil, Nagosari, dan Global Warming
Oleh: Gama (Manager Care Force, CEMARA PKBI SUMBAR)
Teluk Bayur, sebuah latar indah
saat kaki kanak-kanak kita menginjak pasir, amis campur asin
hmmm… aroma selalu sedap bagiku, sahabat
di waktu sedih atau sukacita, laut tidak pernah berseru ”Pergi!”
kau senyum dan berbisik, ”Di sana harapanmu!”
Lima belas tahun yang lalu, gudang batu bara itu tidak lain sebuah jalan besar selebar enam meter. Di kirinya tergolek Samudra Hindia, dan di kanannya berderet rumah penduduk semi permanen. Rata-rata jendela rumah sengaja dibuat lebar menghadap ke teras samudera. Baru ketika nenar-benar akan tidur, oleh penghuninya jendela itu ditutup.
Ada lebih dari lima puluh rumah dibangun memunggungi bukit dimana di kakinya tersudut rel kereta api yang dulu masih digunakan untuk membawa batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur. Jalan dari pasar Gaung ke arah Pelabuhan itu dikenal dengan nama Jalan Ambon. Salah satu rumah besar di sana, adalah rumah kakek buyut saya, seorang pria Pariaman yang menikah dengan perempuan Aceh yang lari dari Sigli semasa perang kemerdekaan. (lagi…)
6 comments Mei 9, 2008
CANTIK, HAK SIAPA AJA HAYO?
CANTIK, HAK SIAPA AJA HAYO?
Gama, Manager CARE FORCE, CEMARA PKBI SUMBAR
Ngomong-ngomong soal cantik, ada ngga sih cewek di dunia ini yang ngga senang dibilang cantik? Mmmm… kayaknya ngga ada deh. Kalau ada, kashian dech! Faktanya, ngga peduli gimanapun bentuk, rupa, dan warna kulitnya, semua cewek ingin dipuji bahwa mereka cantik. Untuk itu, cewek-cewek biasanya sengaja buat ngabisin waktu lebih lama mematut diri di depan kaca, sembari bertanya, “Dah cantik belum ya?” Wah, naga-naganya keinginan untuk cantik sudah jadi kodrat cewek kale??? Setuju?
Tapi o oww… ada masalah! Saat konsep kecantikan tidak dapat menampung kenyataan bahwa cewek-cewek –dan cowok juga- tercipta dengan kekayaan aneka bentuk, ukuran dan warna kulit, maka banyak cewek yang terserang virus MERASA TIDAK CANTIK. Pasalnya, konsep tunggal bahwa cantik itu harus tinggi, harus langsing, harus putih, harus berhidung mancung, bulu mata harus lentik, dan rambut harus lurus panjang adalah adalah oleh konsep yang dibuat oleh koran, majalah, film, dan iklan TV yang sebenarnya amat KEJAM. Konsep ini tidak bisa menempatkan cewek pada posisi menjadi diri sendiri, dan bangga pada apa yang mereka miliki, apa adanya. Akhirnya, banyak cewek-cewek yang berlomba mandi pemutih, ke salon buat meluruskan rambut dan memasang bulu mata palsu. Dan diet mati-matian serta menarik dan meregang tubuh mereka biar bisa lebih tinggi. Wah…. kasian ngga? Banget! Itulah jadinya kalau sudah termakan iklan. GAWAT!!!!
“Tapi itukan wajar, karena cewek gitu lho! pengennya cantik!”
Soal pengen cantik sih wajar. Tapi kalau nafsu itu sampai membuat cewek jadi merasa super duper ugly alias jelek karena ngga punya bodi gitar spanyolnya Cindy Crawford, dan kemudian jadi ‘menyiksa diri’ fisik maupun mental, itulah yang ngga wajar.
Cantik itu bukan soal ukuran! Panjang pendek, kurus atau buncit adalah rahmat yang harus diterima. Cantik itu perkara PD. Percaya Diri guys!!! Meski ada orang yang tinggi semampai bak pohon pinang, tapi kalau dia ngga pede and jalannya jadi malu-malu malah nyaris bongkok… huh, capek deh? Ayo PeDe! Kalau sudah PD, maka kita bisa hidup dengan lebih nyaman karena kita bisa menerima dan mensyukuri diri kita apa adanya. Nggak usah menyiksa diri dengan pogram ini itu jika ujung-ujungnya penolakan pada apa yang kita miliki. Terima dan bersyukur…. Setiap cewek itu unik dan konsep kecantikan harusnya ngga picik dengan hanya mempertuan agungkan satu tipe aja. Cetakan pabrik kale?
Cantik itu adalah SEHAT. Mesti gals! Meski tinggi, rendah, kurus, atau gemuk, yang penting harus SEHAT. Karena dengan KESEHATAN kita bisa beraktivitas maksimal karena merasa nyaman dengan kondisi tubuh yang prima. Untuk SEHAT, kita kudu punya pengetahuan akan pola dan gaya hidup yang baik. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah salah satu ciri SEHAT.
Selanjutnya soal sikap nih! Cantik itu identik dengan SENYUM. Meski dandan kayak artis, kalau wajahnya selalu cemberut mengkerut, cantiknya di mana coba? Maka tersenyumlah dengan tulus. Senyum merupakan bentuk penghargaan yang paling mudah dan bebas ongkos. Hargai siapa saja, jika kita juga ingin dihargai oleh orang lain. Senyum kita akan membuat yang ngeliat jadi ikutan senang dan membalas senyum itu. Sehingga hari-hari pun bisa dijalanin dengan hati senang. Hore!!!
PD sudah, SEHAT sudah, dan SENYUM juga sudah…. Maka yang terakhir, TERAMPIL. Saatnya kita mulai pintar memilih potongan baju, dan gaya rambut yang sesuai dengan bentuk wajah, dan tubuh, yeah sesuai dengan kebutuhan kita. Jangan jadi korban MODE!!! Jangan asal tabrak-tabrak warna, ntar jadi kayak ondel-ondel! Untuk itu coba deh tanya ke temen atau saudara yang cukup ngerti soal mix and match ini. Intinya, bukan mengubah diri atau fisik kita, tapi menyesuaikan apa yang sudah kita miliki dengan apa yang harusnya bisa membuat kita lebih nyaman.
Yup! Kalau sudah begitu, pas deh cantiknya! Semua cewek bisa belajar buat jadi cantik kan, makanya, semakin hari pasti bisa semakin cantik. Ngga fisik aja, tapi juga sikap and kecerdasan. Nah, semua cewek di dunia berhak jadi cantik kan!!! So, jangan pernah berat hati menunjukkan pujian yang tulus ke adik, kakak, teman, atau pacar, ”You are beautiful!”
Add comment Mei 9, 2008
INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN
INOVASI DAN SI PENJUAL TELUR ASIN
Oleh Gama
“… Taluuuuuuuauuua…..” seruan itu terdengar sayup, antara terdengar dan tidak. Seolah datang dari tempat yang amat jauh, seruan itu membuat telinga anak-anak yang kebetulan menangkapnya menjadi berhenti sejenak dari senda gurau. Mereka berlari ke jendela memandang ke arah jalan, dengan awas memeriksa siapa yang lewat di dalam temaramnya malam.
Jam 10 malam sudah. Bukankah tadi Mak Uncu mengingatkan kami untuk tidur tidak lewat pukul sembilan? Hmmm… Tapi anak-anak seusia saya waktu itu tentu punya dunia kecil yang tidak mudah tidur seperti para dewasa yang kelelahan.
“….. Asiiiiiiiiiin….”
“Ha?” mulut kecil saya menganga, bengong dan mengerling ke arah jendela yang tadi sempat kami tinggalkan.
“Itu penjual telur asin!” jelas sepupu, kawan bagaluik tadi. “Eh shhttt…” ia menyuruh saya diam sembari menunggu. Ia menunggu saat si penjual telur asin mengadzan kan kata ‘talua’ dan menggantinya dengan, “Cik iduaaaaaaaang….” teriak sepupu saya.”
Tidak berapa lama, “…. Asiiiiiiiin….” balas suara dari tempat jauh itu.”
“Ha ha ha ha….”
Kami baru tidur hampir tengah malam. Pasalnya, Mak Uncu yang kebetulan mengetahui ‘garah’ tadi mengajak kami keluar, menunggu si penjual telur asin. Tak berapa lama, yang ditunggu datang juga. Seorang pria berumur lima puluhan, dengan baju kemeja abu-abu yang lusuh, celana katun dan sandal japang. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Selain telur asin, ia juga membawa ketiding rotan yang lebar yang didalamnya ada kacang rebus dan sebuah tekong dari bekas kaleng susu. Dalam sebuah keranjang bulat dari bahan sejenis kawat telur-telur asin ia susun. Bau badan bapak penjual telur asin itu aduh ampun, samparono masam! Saat menyerahkan piring kami yang sudah diisi beberapa telur asin, tanpa sadar di garuknya hidung, entah sudah berapa banyak debu dan kotoran yang terkeruk oleh telunjuknya. Hiii…. (lagi…)
Add comment Mei 9, 2008
IKAN EMAS DAN TINJA GEMUK
IKAN EMAS DAN TINJA GEMUK
Oleh: Gama
“Saf…. Saf…. Safriiiiii….” Bisik Eko dengan suara tertahan.
”Ah, apaan?” tanya Safri yang kesal campur cemas.
”Bauk nggak? Ampuunnnn….. masa ngga ngerasa?” keluh Eko.
Safri pura-pura tidak dengar. Keluhan Eko semakin menjadi dan akhirnya menular ke anak-anak lain. Akhirnya Bu Lili mengendus kekisruhan kecil itu.
”Lho bagian sana kok ribut? Ada apa?” Tanya bu Lili
“Hiii… ada yang bawa ikan asin Buk! Paik baunnyo Buk! ” spontan Eko mengadu.
Sementara anak-anak yang lainnya menyadari bau tersebut dan mulai menutup hidung, Safri pun tidak mau ketinggalan menutup hidungnya, meski agak telat.
”Ikan asin?” Bu Lili berusaha melacak ketidak beresan di kelasnya. Hingga berbekal pengalaman beliau, ”Ini bau sepatu!” Simpul Bu Lili.
Duar!!! Jantung Safri nyaris meletup.
”Ayo ngaku siapa yang sepatunya bauk?” desak Bu Lili.
Tidak ada yang mengaku, namun spontan semua mata tertuju ke Eko.
”Sumber baunya di Eko!” Vonis Uci.
“Jangan asal tuduh! Harum kok!” Eko agak mengangkat kaki bermaksud mencium sepatunya. Namun belum sempat ia melakukan attraksi itu, ”Bloakk…..” ia tiba-tiba mual. Tajam, wajah masamnya tertuju ke Safri. ”Safri yang pakai sepatu ikan asin Buk! Safri Buk! Safri!!!” Kelas mendadak ribut, tapi bukan Bu Lili namanya jika tidak dapat mengendalikan keadaan.
Semuanya menjadi jelas setelah Safri menceritakan apa yang dialaminya saat pulang sekolah kemarin. Sesampai di gang depan rumah, ia ingin sekali mengambil sebuah mahluk rahasia yang asyik berenang-renang sejak tadi pagi di banda depan rumah saat ia berangkat sekolah. Setelah pemeriksaan sesaat, syukurlah ikan emas itu masih ada. Cukup besar, sebesar dua telapak tangan Safri. Cukuplah untuk nanti, sambal makan malam bersama keluarganya. Safri tahu pasti bahwa ibunya terkenal pandai memasak ikan bakar.
”Itu ikan mas siapa?” sela Bu Lili.
”Tidak tahu juga Buk! Mungkin ada tetangga di kompleks sebelah yang kolamnya bocor waktu hujan, sehingga ikan itu keluar. Tapi kalau sudah masuk ke banda di depan rumah kan sudah boleh diambil untuk kita.” bela Safri.
”Terus.” Bu Lili ingin dengar cerita selanjutnya.
”Terus saya tangkap ikannya!”
”Dapat?”
”Tidak Buk, malah saya yang terpeleset ke dalam banda. Tanggung basah, saya sergap ikan itu ke bawah jembatan kecil. Namun tiba-tiba yang keluar justru dua biji tinja gemuk. Maka saya langsung loncat ke tepi banda.” keluh Safri.
”Oke! Saf, tapi kamu kan bisa pinjam sepatu abangmu kan? Cecar Bu Lili
”Ngga juga sih Bu. Bang Diego pulang ngga lama setelah saya basah-basah. Waktu masuk ke pekarangan, tanpa sengaja, ia melihat ikan mas itu. Dan ia malah sampai ngikutin ikan mas ke ke ujung banda. Pas mau ditangkap, ia kontan terpeleset. Lalu…”
”Ia ketemu tinja gemuk lagi?” tebak Bu Lili.
”Persis. Kok Ibu tahu?” gantian Safri yang penasaran.
”Nebak aja. Soalnya insiden sepatu bau ikan asin ini juga terjadi di kelas sebelah. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan kalian bersaudara,” sindir Bu Lili yang dalam hati ingin sekali tertawa besar-besar.
”Saya minta maaf deh Bu!” bujuk Safri.
”Ini yang terakhir ya. Jangan mau dibodohi ikan lagi! Gara-gara kamu, konsentrasi teman-teman yang lain jadi buyar.”
Sejak hari itu, tak pelak lagi, dua bersaudara Safri dan Diego di daulat dengan ejekan ’ikan asin’ oleh teman mereka. Dalam hati, mereka menyesal. Namun ada juga syukurnya juga. Syukur teman-teman tidak tahu perkara ikan emas dan tinja gemuk itu. Sekurangnya, ’ikan asin’ lebih bergengsi dibanding ’tinja gemuk’.
Suatu siang, saat pulang sekolah, dua bersaudara ini kembali dikejutkan oleh kedatangan dua ekor ikan emas yang montok-montok. ”Itu di sana, kejar!” teriak Safri girang. Ada perasaan puas sekaligus dendam memenuhi dadanya.
Sepasang ikan emas itu sepertinya tahu bahwa mereka dalam incaran dua pemangsa bersaudara ini. Maka merekapun berenang terburu-buru ke bawah jembatan kecil ujung banda. Sesampainya di atas jembatan. Dua bersaudara ini menunggu si montok berwana emas.
”Lihat!” Pekik Safri.
Dua potong tinja gemuk ternyata baru saja nongol, membuat kecut kedua bersaudara ini. Di dalam hati mereka cuma bisa mengutuk ikan-ikan nakal yang mengerjai merekan. ”Biar ikan-ikan itu dikutuk jadi tinja betulan!” Diego kesal.
”Atau jangan-jangan selama ini, yang kita kejar itu benar-benar tinja?! Jangan-jangan itu tinja jadi-jadian!” tebak Diego yang disambut tatapan cemas dan setengah yakin adiknya.
”Hiiii…..! Pulang yuk!” ajak Safri dengan takut sekaligus kecewa. (For Oki, I still remember the story! Hit it!”
Add comment Mei 9, 2008



