Setahun

April 22, 2008

 

 

 

SETAHUN…

 

Untukmu yang selalu bergerilya hingga pukul 24, berselancar di atas Jazz dan hip hop yang bagimu lebih jernih dan konkret ketimbang undangan untuk bermimpi kekasih. Setahun ini, setelah perpisahan malam itu, aku masih sering merenung dan mematut-matut, sejauh mana harus kulihat dunia. Aku ingin pergi jauh karena perasaan malu dan kekalahan berkali-kali, tapi meninggalkan semua yang indah, yang tidak ternilai, semangat dan ambisi di sana, tidakkah sama dengan ’pembunuhan’?

 

SENSASI

Itulah yang membuat semuanya masih hidup dan berjalan. Ia mengalir di darahku dan menjadi gen aktif untuk setiap langkah, termasuk memutuskan untuk pergi. Ingat, sewaktu kita sepakat menyatukan sensasi, dan kita lihat betapa khlorin malam itu aromanya tidak sepekat biasa, karena sebagian indra kita menjadi tumpul…. terbang terserap groundwood, logs di wood yard, dan sebagian lagi terserap akar-akar halus Akasia.

 

”Pulang?!”

Kata ini jadi punya makna berlipat-lipat di kepalaku. Kembali ke rumah, kembali ke pokok persoalan, kembali menghidupkan semuanya kembali, proses aktivasi yang maju mundur, hingga keputusan untuk berhenti. Tidak ada yang hilang, dan semuanya persis seperti saat itu. Yang berubah cuma satu, aku siap meninggalkan semuanya untuk suatu kemenangan. Tidakkah pulang juga berarti merdeka? Berkumpul dengan keinginan yang paling jujur dan mencari-cari akar  tunggang untuk bergantung dan memaku pengertian-pengertian zaman.

 

”Tunggulah dulu!”

Akan ada terang yang menang. Akan banyak belalang dan rama-rama yang bermain di rumput Madu Sialang, dan orang-orang berhelem yang mancing di sana saat gerimis tidak perlu mengerutkan muka mereka saat ikan tidak kunjung mau dilamar. Kita akan berkemas, kita akan pulang, setelah begitu sabar menunggu hingga nyaris gila.

 

Paras

Ia tidak lagi tercetak di cermin retak, ia ada di sini, lekat dengan semua yang ia akan kenakan keesokan paginya. Ia tidak bingung karena jerawat yang tidak kunjung tuntas, karena paras yang sempurna itu adalah hatinya. Pun, teman-teman tidak akan bertanya apa hari ini ia jatuh cinta lagi? Parasmu bukan Batak tapi ranah di tepian pantai barat Sumatra dimana dulu, jauh sebelum kelahiranmu, ada syekh pembawa syariat, pernah singgah, hidup, dan wafat. 

Entry Filed under: Uncategorized. .

2 Comments Add your own

  • 1. gama  |  April 22, 2008 at 8:40 am

    selalu setiap menulis rasanya jauh lebih lega…. hmmmm, “am i still normal?”
    “definitely, still!”
    normal man has one love, and I always do.

    Balas
  • 2. catra  |  April 23, 2008 at 11:01 am

    bang gama terkena syndrom blogiciae, hehehhe, ga plong sebelum menulis, ahahahaha :-)

    kata gama: yeah…. sepertinya begitchiu…. itu syndrome ganas ngga sih?

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Tag

Kategori

Komentar Terakhir

Catra on Money is everywhere…
faisol on DZIKIR IKHLAS
suhadinet on MiRACLe…
Frighten on Bukan seorang guru kursus! But…
ika on Izinkan aku aborsi….

Top Clicks

Blog Stats

Top Posts