Archive for April, 2008

Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!

Best Seller

 

Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!

 

Akhirnya berkat kemurahan hati seorang teman saya mendapatkan buku best seller  THE SECRET (RAHASIA) yang disusun oleh Rhonda Byrne dalam format e-book. Sebenarnya, waktu di Medan 2007 lalu, saya sempat beli DVDnya. Namun kaset tersebut kemudian dipinjam teman dan hingga sekarang masih  belum dipulangkan. Maka saya lega sekali dapat membaca versi bukunya, meski dalam format PDF yang kemudian saya eksport ke WORD.

 

RAHASIA adalah buku yang membuka pikiran kita tentang kekuaran pikiran. Apa yang kita pikirkan berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan, kejadian dalam hidup kita. Kesuksesan pada dasarnya sudah ada di sekitar kita, dan jika ingin dekat dengannya –denan prinsip hukum ’tarik menarik’ semesta ini, ia bisa ditata dengan menata pikiran kita. Pemograman secara sadar ini akan mengarahkan semesta untuk memberikan apa yang kita inginkan.

 

Buku ini mengajarkan saya banyak hal, yang butuh lebih banyak waktu untuk mulai memprakterkkannya satu persatu. Salah satunya adalah mulai dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki sekarang, lalu membiasakan diri berkonsentrasi pada apa yang kita inginkan, menyetel mood atau suasana hati dan membuat jalan pikiran menuju hasil, dan selanjutnya membuat vision board. Untuk yang terakhir, mala ini saya akan mulai menyusun vision board saya, 2008 2009, hingga 2011, dan 2100.

 

RAHASIA adalah sebuah kekuatan niat dan pikiran untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kemampuan berfikir positif dan fokus pada hasil (bukan pada masalah) adalah pembelajaran yang bisa dipraktekkan oleh siapa saja. Dengan mengenal bagaimana sebuah ’takdir’ kehidupan secara mekanis tercipta, dan bagaimana cara kerja pikiran manusia, sadarlah kita bagaimana proses ’pikir’ para ilmuan, seniman dan orang-orang besar lainnya yang menjadi pemuncak dizamannya. Karena mereka mengerti dan sadar akan bagaimana memanfaatkan RAHASIA.   

 

Maka jika barangkali kita selama ini kurang punya imajinasi karena sudah sedemikian frustasi, maka belajarlah menggunakan RAHASIA. Capailah harapan, dan rasakan bahwa semuanya sudah diciptakan untuk kita. Mau? Saat RAHASIA sudah menjadi kemampuan pribadi, maka keberhasilan itu bisa lebih cepat dari “Sim Salabin! Jadilah heyyy!!!”

 

 

5 comments April 23, 2008

FORGIVE ME PALL, for Arpen

FORGIVE ME PALL, for Arpen

 

Saya selalu menyimpan hasil postingan blog terakhir setiap selesai browsing. Buat apa? Biasanya untuk melihat kembali berapa banyak visitor yang sudah melongok blog aq ini, dan kemudian untuk menyemangati diri agar terus menulis. Tahun ini harus jebol di Kompas!!!

 

Tanggapan Arpen beberapa hari lalu soal tulisan saya “Angek-angek cik ayam” terus terang membuat saya kesal, dan kontan saya tanggapi dengan sangat defensif, mempertahankan diri.

 

Dua hari ini, saya baca berkali-kali tanggapan itu, hingga kemudian saya sadar bahwa saya seharusnya tidak memberti menanggapi tanggapan seorang teman seperti Arpen dengan sedemikian keras. Soal pekerjaan dan soal pertemanan adalah soal yang penting yang buat orang denga ukuran ’kedewasaan’ seperti saya kadang rasanya mudah-mudah susah. Saya sadar sendiri masih belajar bagaimana menggandeng keduanya dengan baik, meski terkadang terjadi error dan ketegangan seperti sekarang.

 

Saya akui, jawaban saya saat itu memang egois sekali dan pantas kemudian Arpen merasa tersinggung maka saya bisa mengerti.  

 

Mungkin saya memang teman yang tidak baik. Untuk kasus ini, saya bisa terima vonis tersebut. Karenanya, dari hati yang paling dalam saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya, pada Arpen. Saya harap setelah ini kita masih bisa berteman, dan semakin mengerti satu sama lain.

 

Saya memang ingin jadi relawan yang hebat, tapi bagaimana mungkin bisa jika berteman saja saya masih terseok-seok seperti ini. Anyway, biarlah saya terus belajar.

 

Well…. soal angek-angek cik ayam itu, jujur, memang waktu itu hati saya juga angek, tapi syukur sekarang sudah dingin, semoga Arpen juga begitu. I’ll send you private message after this. 

3 comments April 23, 2008

Sandal! Sandal! Hujan! Hujan!

 

Sandal! Sandal! Hujan! Hujan!

 

Beberapa hari belakangan, kota Padang dilanda hujan. Kadang pagi hari sekitar pukul enam hingga delapan, kadang sore hingga malam, dan sesekali tengah malam. Hmm… kebetulan karena saya tinggal di Jalan Andalas, salah satu jalur yang cukup sibuk, hingga setiap pagi d dan sore dihari kerja mengalami kemacetan. Hujan terlihat jelas membuat banyak pemakai jalan kesal. Mudah sekali melihat kekesalan itu, simak saja bagaimana sopir angkot dan bus kota saling sikut, dan hujat mendorong pengemudi yang lain untuk ambil inisiatif. Mahasiswa tetangga sayapun juga tidak terlepas dari kekesalan karena hujan. Walau sebagian besar punya motor, tapi tetap saja, mesti super hati-hati kalau mengendara, mana macet, jalanan becex, badan capex, oto ndak lo saketex, banyaklo anak-anak ketex, wak susah mangamex…

 

Mengingat hujan yang sepertinya tidak akan berhenti hingga dua bulan ke depan, kemarin saya ke pasar membeli sepasang sandal. Kalau setiap hari keluar rumah pakai sepatu, susah juga, karena sepatu menyerap air dan keringnya butuh sehari. Saya punya dua pasang sport shoes, yang biasanya selalu dipakai bergantian untuk kerja.

 

Saat membeli sandal di departmem store, saya tidak banyak pikir. Beberapa bulan lalu saya sudah ke sana dan mengamati sandal itu. Meski demikian, keinginan untuk windows shopping menuntut saya untuk tidak langsung beli, tapi hang out dulu, coba ini coba itu. Yeah, sekurangnya bisa omong-omong dengan Eti –yang namanya mirip dengan nama Mama saya- si penjaga outlet.

 

Singkatnya, setiba di rumah, saya kembali mencobakan sendal itu. Ah, ukurannya, saya khawatir jangan-jangan tadi si Eti salah kasih, atau kaki saya membesar secara ajaib, kalau yang lain, saya tentunya tidak akan komplain. Ah, apa coba?

 

Dulu waktu duduk di bangku kelas dua, saya pernah dibawa Pa, ke toko sepatu. Saya tidak tahu persis apa waktu itu memang musimnya sandal karet keras yang mirip bahan karet ban atau tidak, yang jelas saya cuma ingin beli sandal yang modelnya begitu.  Kami –saya dan Pa-  menjelajahi toko demi toko. Pa jelas bukan orang yang cukup sabar, tapi bukankah tidak ada salahnya jika kali itu ia bersikap baik untuk melayani acara ke pasar yang nyaris tidak pernah kami lakukan.

 

Pertama kami ke koperasi karyawan Ombilin, Sawahlntuo, tempat Opa saya kerja. Biasanya kebutuhan harian diambil di sini, termasuk seragam sekolah kami, buku-buku hingga pembalut buat ’etek’ saya. 

”Ada sendal karet yang hitam, model sendal jepit ngga?” saya akhirnya bertanya pada Tek Ros penjaga koperasi setelah tidak melihat ada tidak ada tanda-tanda keberadaan sendal yang saya cari.

Namun yang ditanya cuma menggeleng.

(lagi…)

1 comment April 23, 2008

Your melting faces, girl!

The Boop Troop

Your melting faces, girl!

 

Show me the utmost premise

Why this love is a matter….

Why?

 

The red festive color garnished your lips

A short piggy pinky skirt printed your ass

And the patched bra there,

Definitely sexy?!

 

Perhaps you are worth loving

OMG! Am I too late to be aware?

All the gratitude, you set me up, you lead me in, you suck me great….

 

The horrible city garden after seven, where this love relies on

Is the safest stadium shelter

Till I get a surprise

About you, the third

 

“Are you a permanent visitor?”

“Should we issue a member card?!”

 

Oh Padang padang padang…..

Till the next morning, I find your initial

On the local daily

7 were caught, 7 jumped to Sawahan bridge

Hurray!!! beer party for city security

 

Add comment April 23, 2008

SEORANG Inspiring WTS

Celebrated Novelist, Historian, Author, Political Campaigner Tariq Ali

SEORANG Inspiring WTS

 

WTS, Writer, Trainer and Speaker, adalah julukan yang dipilih sendiri oleh Andrias Harefa. Sebagai seorang penulis, buku-bukunya menduduki rak-rak toko buku di deretan buku best seller. Buku yang sekarang saya baca adalah karya ke 26 dari bapak 3 anak ini yang asli Nias ini. Judulnya ‘Membangun Spirit Keberhasilan, dengan memulung kekayaan dari sekolah kehidupan’ yang merupakan kumpulan essay singkat tentang saripati hidup yang ia ‘pulung’ dari pengalaman teman, orang-orang besar, dan kehidupan sehari-hari.

 

Beberapa bab di buku ini saya baca secara marathon, yeah… terasanya seperti ‘ngemil’. Ngemil pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan yang baru tapi lama. Baru karena kesadaran saya disentuh cara yang baru, yang lebih ’menghargai’ dan elegan. Lama karena pembelajaran seperti kedisiplinan, idealisme, berfikir positif adalah zikir lama yang terkadang cuma merapung tanpa larut sebagai ’sikap’ dalam diri saya.

 

Saya pernah dengar ada orang yang berujar, ”Ngga usahlah baca buku ini atau itu segala. Baca dan pahami saja Alquran, karena ia lengkap dan apa sih yang tidak ada di dalamnya?!”

 

Membaca dan mendalami kitab suci adalah sesuatu yang masuk akal, berguna, dan tentunya berpahala. Namun sekarang, saya mengerti kenapa buku-buku baru, selalu membuka mata orang lebih lebar, padahal sudah ada buku-buku klasik yang justru punya muatan kurang lebih sama. Barangkali, sentuhannya lah yang berbeda.

 

Dalam Agama, bukankah kita tidak bisa terlalu memaksakan sebuah kesadaran pada orang lain. Tidakkah ’hidayah’ datang pada saat dan dari jendela yang tidak terduga. Maka jika mungkin kita belum mendapatkannya, tetaplah pastikan setiap pagi ’pintu atau jendela itu’ selalu siap terbuka.

 

Terakhir, saya ingin kutip salah satu halaman soal kedisiplinan, hidayah, yang mudah-mudahan diberikan secara permanen pada kesadaran saya:

 

”dengan disiplin, kita mengubah realita menjadi cita-cita. Dengan disiplin kita mentranformasi inspirasi menjadi prestasi. Dengan disiplin, kita bisa menata hidup agar dapat bergerak ke arah yang lebih berguna bagi lingkungan di sekitar kita. Dengan disiplin kita sesungguhnya menciptakan masa depan kita sendiri. (Hal.62)

 

”… disiplin adalah lem perekat dunia impian dan dunia nyata. Disiplin adalah jembatan penghubung , sehingga tanpa disiplin dunia impian tak akan tersambung dngan dunia nyata.” (Hal:68)

 

Coba kulik situsnya Andrias Harefa di www.pembelajar.com

 

 

 

1 comment April 23, 2008

Koran Lokal, dan kebiaasaan mengutip yang…. Aduh!

newspapers (Tehran)

Koran Lokal, dan kebiaasaan mengutip yang…. Aduh!

 

Setiap minggu biasanya saya senang sekali membeli korang edisi Minggu. Saya paling suka opini, cerpen, humaniora, interview tokoh dan puisi. Selain membeli koran nasional, saya juga membeli koran lokal, salah satunya untuk mengecek tulisan sendiri.

 

Belakangan saya paling kecewa melihat opini atau cerita yang diambil dari internet dan dikopi oleh koran lokal. Artinya tidak ada penulis yang mengirim tulisan di bagian itu, dan pihak koran sendiri tidak punya wartawan yang kebetulan menulis untuk itu, sehingga diputuskan agar mengcopy opini atau cerita dari internet. (lagi…)

1 comment April 23, 2008

Setahun

 

 

 

SETAHUN…

 

Untukmu yang selalu bergerilya hingga pukul 24, berselancar di atas Jazz dan hip hop yang bagimu lebih jernih dan konkret ketimbang undangan untuk bermimpi kekasih. Setahun ini, setelah perpisahan malam itu, aku masih sering merenung dan mematut-matut, sejauh mana harus kulihat dunia. Aku ingin pergi jauh karena perasaan malu dan kekalahan berkali-kali, tapi meninggalkan semua yang indah, yang tidak ternilai, semangat dan ambisi di sana, tidakkah sama dengan ’pembunuhan’?

 

SENSASI

Itulah yang membuat semuanya masih hidup dan berjalan. Ia mengalir di darahku dan menjadi gen aktif untuk setiap langkah, termasuk memutuskan untuk pergi. Ingat, sewaktu kita sepakat menyatukan sensasi, dan kita lihat betapa khlorin malam itu aromanya tidak sepekat biasa, karena sebagian indra kita menjadi tumpul…. terbang terserap groundwood, logs di wood yard, dan sebagian lagi terserap akar-akar halus Akasia.

 

”Pulang?!”

Kata ini jadi punya makna berlipat-lipat di kepalaku. Kembali ke rumah, kembali ke pokok persoalan, kembali menghidupkan semuanya kembali, proses aktivasi yang maju mundur, hingga keputusan untuk berhenti. Tidak ada yang hilang, dan semuanya persis seperti saat itu. Yang berubah cuma satu, aku siap meninggalkan semuanya untuk suatu kemenangan. Tidakkah pulang juga berarti merdeka? Berkumpul dengan keinginan yang paling jujur dan mencari-cari akar  tunggang untuk bergantung dan memaku pengertian-pengertian zaman.

 

”Tunggulah dulu!”

Akan ada terang yang menang. Akan banyak belalang dan rama-rama yang bermain di rumput Madu Sialang, dan orang-orang berhelem yang mancing di sana saat gerimis tidak perlu mengerutkan muka mereka saat ikan tidak kunjung mau dilamar. Kita akan berkemas, kita akan pulang, setelah begitu sabar menunggu hingga nyaris gila.

 

Paras

Ia tidak lagi tercetak di cermin retak, ia ada di sini, lekat dengan semua yang ia akan kenakan keesokan paginya. Ia tidak bingung karena jerawat yang tidak kunjung tuntas, karena paras yang sempurna itu adalah hatinya. Pun, teman-teman tidak akan bertanya apa hari ini ia jatuh cinta lagi? Parasmu bukan Batak tapi ranah di tepian pantai barat Sumatra dimana dulu, jauh sebelum kelahiranmu, ada syekh pembawa syariat, pernah singgah, hidup, dan wafat. 

2 comments April 22, 2008

Izinkan aku aborsi….

Abortion

Izinkan aku aborsi….

Bagi PKBI Jawa Tengah, aborsi bukan sekedar perkara legal atau tidak namun lebih pada persoalan aman (safe abortion) atau tidak aman. Demikian kesimpulan yang dapat saya tarik setelah membaca buku Sekitar Masalah Aborsi di Indonesia yang ditulis dan diterbitkan oleh PKBI Jawa Tengah. Pada kenyataannya, PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jateng telah membantu melakukan aborsi aman dari tahun 1981-2007 kepada 19.430 akseptor, dengan angka kematian Ibu 0 %. Menarik!

Aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi / pembuahan sebelum kehamilan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (hal. 95). Sejak zaman Hipokrates (500 SM), aborsi telah menjadi kontroversi yang tidak kunjung selesai. Selalu saja tidak ada titik temu antara yang setuju ataupun yang menolak. Pertentangan itu berlanjut hingga zaman modern ini. Kenapa ada aborsi? Karena setiap waktu, dalam setiap zaman, selalu saja ada perempuan yang belum siap atau belum dan tidak mau untuk hamil, namun kenyataaannya mengalami kehamilan. Akhirnya, kehamilan tersebut ingin ditolaknya lewat upaya aborsi.

Oleh karena itu, faktanya, dalam setiap masyarakat selalu ada cara-cara tradisional untuk melakukan aborsi. Demikian juga di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, tidak terkecuali di Sumatra Barat, selalu ada cara tradisional dalam melakukan aborsi. Seperti dengan memasukkan pucuk pinang atau batang bambu ke rahim. Demikian juga dengan pemijatan dan cara kimiawi dengan jamu atau ramuan tertentu agar terjadi kontraksi yang hebat di rahim. Sejauh ini tidak ada penolakan masyarakat terhadap cara-cara tradisional tersebut. Dapat dianggap, masyarakat bisa menerima praktek aborsi secara tradisional meskipun efek samping berupa cacat dan kematian cukup besar. (lagi…)

2 comments April 22, 2008

mengejan euekkk…eekk…. eee….

Guavas

lima belas tahun yang lalu, saya adalah seorang anak yang sering sekali bermasalah dengan sistem pencernaan. kemalasan saya untuk makan sayur dan buah, telah menjadikan sembelit sebagai sesuatu kebiasaan paling jamak. rata-rata tiap tiga kali sehari, kamar mandi saya akan terkunci sekitar setengah sampai satu jam.

klimaksnya saat papa harus membawa saya ke dokter. “ini sudah dua minggu ia ngga ada pub, dok!”

dokter itu, laki-laki setengah baya, berkulit sao matang, dengan rambut cepak mengkilap oleh tanco atau apapun mereknya saat itu, mengerdip ke saya. olehnya saya diminta tinggal setengah jam ruang itu. (lagi…)

1 comment April 17, 2008

Angek-angek cik ayam mah!

ginny's chicken shit bingo

Angek-angek cik ayam mah!

 

Saya paling benci mengucapkan istilah ini –angek-angek cik ayam mah!-  ke diri sendiri. Memang, saya amat berisiko dengan ini. Dari dulu, kedua orang tua saya mengerti bahwa saya adalah anak yang bersemangat memulai sesuatu. Saya tipe yang cepat panas, cepat asyik, keasyikan, dan setelah itu bosan, and say good bye…. Mirip dengan mekanisme orgasme…. Dipanasin, panas, meluap, tumpah dan tumbang. Capek deh….

 

Sadar akan hal ini, menjelang remaja, saya mulai benci dengan peringatan yang lebih terdengar sebagai sebuah cemoohan dari oran-orang terdekat, “Lai ndak angek-angke cik ayam seh tu?” Dan yah, sayapun berusaha membuktikan bahwa saya bisa serius, tahan dan komit dengan sebuah keputusan. Salah satu buktinya adalah saat komit membuat catatan harian, saya memulainya dari kelas satu SMU, hingga kuliah, hingga kemudian, menumpuk ke dalam 20 buku. Serius untuk punya sahabat pena, hingga akhir SMU yang dengan pengalaman ini saya sempat dikirim ratusan dolar oleh orang tua angkat di USA dan undangan kawinan teman saya di Perancis. Selain itu juga saya bisa komit untuk pindah ke tempat kos, dan mulai mandiri secara keuangan. Hal-hal ini, sungguh merupakan prestasi bagi saya, terutama untuk lepas dari doktrin pribadi akan ‘angek-angek cik ayam’.

 

By the way anyway Sunday busway, saya paling tersiksa bekerja atau berurusan dengan orang berkomitmen ‘busuk’ angek-angek cik ayam. Mereka ada banyak! Barangkali ini  adalah ciri dari orang-orang kita yang terlalu mudah mengucapkan, “Maaf ya, saya sakit perut, ada halangan, sadang TU (taujuang), dan lain-lain.” Kita terbiasa untuk berfikir bahwa orang pasti bisa ngerti, jika tidak, mereka langsung kita cap egois. Kita selalu merasa aman dengan berkilah, “Kan sakalinyo, kan duo kalinya”. Kita selalu berfikir hari ini cuma untuk hari ini, padahal efeknya adalah penilaian orang lain yang bisa jadi langsung memvonis kita dengan “tidak disiplin, atau tidak bersungguh-sungguh.” Akibatnya kita tidak terbiasa berfikir jangka panjang, terukur, apalagi punya target. Kegiatan-kegiatan dan inisiatif lahir dari euphoria –kesenangan yang meledak sesaat-, seperti ‘coli’.

 

Ini mensyahkan kepribadian nasional yang terlihat pada bagaimana kebijakan-kebijakan di negri ini dibuat dan dilaksanakan. Setiap kampanye selalu lahir ide-ide yang baru, lalu saat menjabat aturan lama mesti diganti, karena perlu membuat anggaran –pengeluaraan yang juga baru, supaya biar terkesan ada kerja dan inovatif.  Akibatnya, program periode terdahulu jadi terbengkalai, dan rakyaklah korbannya. Pejabat kita selalu saja senang memulai dan membuat sesuatu yang bombastis, senang dipotret di koran-koran dengan font besar ‘seorang pionir’. 

 

Kembali ke diri saya, belakangan, saya tahu hanya satu yang dapat menyalamatkan saya dari korban orang-orang yang angek-angek cik ayam, yaitu ATURAN yang JELAS. Aturan yang bisa memenggal keputusan bahwa ini salah kamu, maka terima saja sangsinya, sekurangnya sangsi moral bahwa kamu ‘lamah’, bahwa kamu ‘impoten’ dalam berkomitmen dan sangsi berikutnya adalah resiko seperti kesepakan bla bla bla bla….

 

Stress memang berhubungan atau bekerja dengan orang-orang yang angek-angek cik ayam. Tidak jarang kita kecipratan makian ‘ma ado toleransi paja tu!’ Saya pikir, toleransipun harusnya diatur. Ada batasan yang jelas bahwa toleransi tidak membuat seseorang menjadi semaunya. Dan yah…. Susahnya adalah banyak orang merasa malu untuk mengakui, “Sorry ambo salah, dan ambo akan tanggung resikonyo.” Tidak banyak mereka yang seperti ini, dan jika ada, saya ingin menjadi satu diantaranya. Saya tidak takut kehilangan apa yang saya punya jika memang itu sangsi dari kelemahan saya berkomitmen. Sebaliknya, saya memagut hak-hak saya kuat-kuat karena tidak ada seorangpun yang dapat merenggutnya, terlebih hanya karena asumsi, “paja tu elok mah, bia seh lah!”  

 

Pekerjaan saya sebagai seorang penyedian jasa membuat saya menjadi lebih perfeksionis dan terdorong untuk memberikan layanan terbaik yang tidak angek-angek cik ayam. Contoh kecilnya adalah, saya tidak akan janji ini itu kalau dasarnya saya tidak punya kesempatan untuk itu. Belakangan saya sering berguman ke diri sendiri, jangan muluk-muluk, boleh inovatif tapi ukur juga kekuatan. Bagus karena memang mampu boleh, tapi terkesan bagus karena ‘ota gadang’ itu yang tidak benar. Biarlah menjadi ‘tangguh’ lewat proses yang bertahap, ketimbang kelihatan hebat karena suntikan ‘mistik’ (bisa jadi karena duit atau kekuasaan orang lain). What you see what you get! It sonds more real!

 

Sekedar tips, jika Anda berurusan dengan siapa saja, tidak masalah apa Anda tahu bahwa ia angek-angek cik ayam atau tidak, jangan pernah berharap terlalu berlebihan sebelum proses berjalan dan buatlah kesepakatan awak yang jelas. Semoga, dikemudian hari Anda tidak mengumpat atau gigit jari.

5 comments April 17, 2008

Previous Posts


 

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip

Blogroll

Meta

Tulisan Terakhir

Tag

Kategori

Komentar Terakhir

Catra di Money is everywhere…
faisol di DZIKIR IKHLAS
suhadinet di MiRACLe…
Frighten di Bukan seorang guru kursus! But…
ika di Izinkan aku aborsi….

Top Clicks

Blog Stats

Top Posts